Kamis 17 mei 2012, ada apa dengan tanggal itu ??
kalo
dikalender sih itu adalah tanggal merah, hari libur karena memperingat
kenaikan isa almasih bagi kaum nasrani, tapi bagi kami kaum sparta sby
club, itu adalah hari libur untuk saatnya menaiki bukit, haha. Yap kami
kaum sparta kembali mencetak REKOR baru dengan berhasil tembus rute yang
lumayan berat : Darussalam – blang bintang - bukit radar – krueng raya – benteng inong balee. Jarak tempuh total diperkirakan 75 km.
Perjalanan
yang jauh dan melelahkan pastinya, dari yang tersesat, cidera lutut,
sampai minum air bak mandi semuanya ada dicerita kali ini, dan untuk
pertama kali sepanjang cerita perjalanan sparta, ini adalah trip dengan
durasi paling lama, pergi pagi pulangnya malam. penasaran?? sok atuh
dibaca
Pukul 07.00 sesuai kesepakatan kita semua kumpul
dulu di warung kopi diseputaran darussalam, breakfast dan cek semua
logistik. Namun karena hujan deras yang datang tiba2, keberangkatanpun
terpaksa delay, sekitar pukul 9.00 baru akhirnya kita berangkat. Jalanan
yang basah dan becek membuat kayuhan terasa berat, itu wajar ya, sesuai
dengan hukum fisika “gaya gesek yang besar mengakibatkan perlambatan
kecepatan” *ntah iya pun :D yang jelas kondisi jalan yang becek kayak gini membuat kami pada kotor semua, tapi kami senang, karena kata rinso “Berani kotor itu baik” itu artinya kami adalah cowo baik. haha
dari darussalam menuju bukit radar, akan melewati bandara dulu dan wajib poto2 dulu. jepreeet
dari bandara kita langsung go ke bukit radar, jalannya masih basah.
isi ulang angin
anda memasuki daerah militer TNI au, kecepatan 40km/jam, nah ini pintu gerbang menuju bukit radar
Secara
keseluruhan, medan dirute kali ini lumayan landai, jalannya lebar,
beraspal juga, walaupun sebagian besar jalannya sedang dalam perbaikan.
Cuma pada saat turunan aja yang medannya lumayan ekstrem, soalnya
kondisi jalannya hancur abis, banyak lobang2 yg gak bisa diprekdiksi,
trus batu-batunya juga gak kecil2 amat, apalagi dengan kec tinggi, kami
harus ekstra fokus dan optimal mengontrol sepeda. Loncat, rem, loncat,
rem, blaassst kerikil2 kecil berhamburan, beuuh keren abis. haha.
yang paling keren itu adalh ketika kami berhasil mendarat dengan selamat.
yang penting Gaya
Tanjakan bos.. dorong dorong
Kenapa dinamakan bukit radar?? karena rupanya di bukit ini memang ada stasiun radar, “Stasiun Radar MSSR Bandara Sultan Iskandar Muda”
namanya. Lokasinya ada dipuncak bukit, view dari sini keren banget,
banda aceh keliatan kecil, pantai krueng raya juga terlihat indah :D
tapi sayang kamera kami kurang mendukung untuk mengambil picture jarak
jauh, jadi ya gak bisa mengabadikan momen bagus itu
Kali
ini ceritanya juga tentang Sepeda, apalagi kalau bukan tentang serunya nge-club
bareng SBY, grup yang kepanjangannya agak maksa yaitu Sepeda buatga ya. Karena memang,
kami memiliki sepeda bukan untuk kebutuhan primer melainkan kebutuhan gaya,
sekaligus untuk promosi go green dan sebagai gaya hidup masyarakat modern. Walaupun
sepeda yang kami miliki bukan dari keringat sendiri, ada yang punya oomnya, ada
yang punya abangnya, sekali lagi, walaupun sepeda minjam, yang penting gaya,
hehe..
Trip
kali ini berawal dari keinginan untuk memberi
contoh kepada grup sebelah, yang juga menggaungkan tentang sepeda, tapi ga
pernah bergerak serta mengekspedisi. Walaupun grup kami tidak ada seragam
khusus, logo, SK apalagi NPWP, tapi gowes tetap jalan, track baru dijelajahi,
ekspedisi tiap bulan dan hasil pengamatan saya sendiri sebagai kabid humas sby
(macam apa aja..) tiap harinya ada saja anggota baru yang mau bergabung,
walaupun mereka hanya liat-liat isi grup, foto atau Tanya jawab, poin yang
ingin di sampaikan adalah, pencitraan sby dikalangan facebokerss sukses berat.
Setelah
tertunda beberapa kali, akhirnya disepakati tanggal 8 April, sebagai tanggal
ekspedisi ke air terjun kuta malaka. Ada tujuh member yang ikut serta, 6
diantaranya adalah sudah terbukti kejantanannya dan satu lagi ijal, member baru
yang coba menantang alam. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, mulai dari start di salah satu tempat
tongkrongan favorit, Dhapu kuphi sekitar jam 9 kami berangkat menuju samahani,
daerah dimana air terjun berada. Di tengah perjalanan kami singgah di Sibreh,
salah satu Sparta, bang umam. Oiya.. Sparta itu julukan buat member yang suka
ekspedisi dan track downhill, suka standing dan jumping trus ga takut lecet
atau kotor sepedanya, dan mau merogoh kocek lebih dalam demi gaya bersepeda,
hehe (aseli hiperbola). Intinya Sparta itu adalah sby, tapi tidak semua member
sby Sparta.
Sekitar
setengah jam kami istirahat di rumah bang umam, sambil menyantap boh giri, atau
jeruk bali dan Alhamdulillah ayah bang umam nan dermawan menghadiahkan 3 buah
jeruk bali untuk kami bawa ke air terjun. Setelah semuanya siap, dan persediaan
air sudah di isi ulang, kami langsung
bergegas menuju samahani. Mulailah kami keluar dari jalan raya antar
provinsi menuju track downhill alias bebatuan dan tanah. Mulai terasa paha
pegal dan lemas, karena tanjakan yang luar biasa, ditambah cuaca yang
menyengat. Terhitung beberapa kali kami melakukan pits stop.
Namun
semua lelah, panas, pegal hilang ketika kami melintasi anak sungai. Nah,
bayangkan ketika sudah panas, lelah dan pegal anda bertemu dengan anak sungai
yang airnya jernih, bersih dan segar. Wuiiiih… yang pertama saya lakukan
adalah, menggayuh sepeda secepat mungkin melintasi anak sungai tersebut,
sehingga dengan kecepatan penuh tadi ketika ban sepeda meluncur di air, maka
tercipratlah air tersebut bagaikan di film2 laga, wuiiihhh… saya berteriak
kencang. Saya ulangi lagi, sehingga terekam dalam kamera. Luar biasa… unforgettable
lah..
Rupanya
itu bukan satu satunya anak sungai yang kami lewati, ada sekitar 5 anak sungai
yang kami lalui, dan selalu saya melakukan hal yang sama ketika melewati anak
sungai tersebut, sehingga basahlah semua badan dan sepeda. Sepeda yang tadinya
bersih, ketika masuk sungai menjadi tambah bersih, namun setelah menanjak
bukit-bukit terjal, ia menjadi kotor kembali.. dan turun lagi ke sungai
sehingga bersih lagi. Kejadian tersebut berulang-ulang dan saya pun kegirangan.
Akhirnya saya akan membahas sesuatu kegiatan yang sangat dinanti ketika akhir pekan datang, sesuatu yang menjadi tren masyarakat modern yang peduli lingkungan serta kesehatan, sesuatu yang jika diajak keliling malah makin senang, yang membuat si kharisma, abang letingnya cemburu, sesuatu yang merupakan warisan dari generasi sebelumnya, yaitu bersepeda bersama si polygon. Kenapa saya sebut warisan generasi sebelumnya, karena memang polygon ini adalah warisan dari abang saya. Polygon resmi parkir di gudang rumah saya sekitar tahun 2009, pada saat itu abang saya sudah dinas di Banda Aceh. Terkadang polygon menemaninya ketika berangkat ke kantor, pun tak jarang saat weekend mereka ikut sepeda santai bersama. Memang pada saat itu saya masih mencari sebongkah pengalaman di kampus, jadi agak kurang perhatian dengan sepedaan.
Nah.. akhir-akhir ini kebersamaan polygon bersama abang saya agak sedikit renggang. Terkadang ia hanya tersenyum kaku di gudang, berminggu-minggu hingga ia menunjukkan sedikit kekesalannya dengan dikeluarkannya beberapa udara yang ada di kedua ban. Pada saat itulah saya melihat kesempatan emas, merajut kemesraan (heleh… macam apa aja) dan berpetualang ria. Terkadang terdengar suara dari roda-roda yang berputar, pada saat saya ragu-ragu ingin mengayuhnya, sang polygon berbisik “life is an adventure..!!” sehingga bertambahlah keyakinan saya dalam menjelajahi kota, rawa bahkan rimba yang ada di sekitar aceh nan sejahtera. Apalagi sekarang si abang sudah mengayuh bahtera bersama seorang wanita sholehah, sehingga saya sebagai adik satu-satunya diberi amanah untuk menjaga si polygon dan tentunya memaksimalkannya.
Ternyata gayung bersambut, saya bertemu dengan beberapa pengguna sepeda lainnya yang sering mutar-mutar kota di minggu pagi. Akhirnya kami membentuk sebuah club untuk memaungi para anggotanya, memang singkatannya agak sedikit maksa sih.. sepeda buatga ya, sehingga kalau disingkat mirip dengan presiden kita terhormat SBY. Knapa buat gaya, karena memang kami bukan atlit, bukan pejabat dan bahkan bukan politikus, kami hanya mahasiswa tingkat akhir. Sehingga kami menggunakan gaya masing-masing dalam bersepeda, ada yang gaya DJ, gaya akademis, gaya romantis dan bahkan ada yang ga pake gaya.
“Sampaikan
kepada mereka bahwa negeri kami aman, nyaman dan ramah. Jika anda berkunjung ke
tempat kami dan merasa senang mohon sudi kiranya untuk diceritakan kepada sanak
saudara, kerabat dan family lainnya, dan jikalau ada beberapa hal yang tidak
mengena di hati mohon ceritakan kepada kami agar dapat diperbaiki dimana yang
bocor, dinding yang retak, sudut yang tidak sedap serta rasa yang berlebihan.”
Menjamu
tamuadalah kegiatan yang mulia,
layaknya jika kita berkunjung ke tempat saudara ataupun kerabat diseberang,
pasti inginnya kita dilayani dan diperhatikan, nah.. seperti itulah seharusnya
kita bertindak sebagai tuan rumah, mewujudkan apa yang ada di benak para tamu. Menjamunya
seperti keinginan kita dijamu, memerhatikannya seperti kita ingin diperhatikan,
karena ini adalah tradisi orang timur dan sunnah Nabi yang kita cintai.
Setelah
beberapa kali bertamu ke negeri seberang, merepotkan kerabat yang dikenal serta
numpang di beberapa tempat menyenangkan, Alhamdulillah kali ini ada kerabat
yang datang untuk bersilaturrahmi ke kampung halaman saya, tempat yang indah
nan permai, negeri yang tak tergantikan, daerah asal dari banyak pejuang, hehe…
(hiperbolanya berlebihan ya..) dan dengan sigap saya menyiapkan penyambutan,
karpet merah dibentangkan, makanan sedap tersaji, permaisuri tersenyum
berseri-seri, penari-penari sibuk merapikan kain songketnya, sang musisi
siap-siap mengambil nada, komandan upacara berdiri pada tempatnya dan saya
kelabakan mencari kata-kata untuk dirangkaikan.
Setelah
memarkirkan tubuhnya di bandara Sultan Iskandar Muda, pesawat yang diberi nama
Lion itu memuntahkan isi perutnya yang diantaranya ada kerabat saya. Langsung setelah
menyambutan meriah selesai, kami mengantarkan para tamu menuju istana tempat
penginapan yang juga berdekatan dengan rumah Sang Pencipta yang rakyat Aceh
beri nama Mesjid Baiturrahman. Setelah menyelesaikan ibadah di mesjid
kebanggaan rakyat aceh tersebut, kami berkeliling sekitaran banda aceh yang
berujung di ujung pulau Sumatra yaitu pantai ule lhuee.. menyantap jagung bakar
nan manis pedas menanti matahari tenggelam dalam gelapnya malam.
Kedua
kerabat ku ini mengunjungi aceh bukan tanpa sebab, usut punya usut rupanya
mereka disuruh sama menteri pariwisata untuk mengecek dana yang turun dari
pusat kepada beberapa daerah termasuk aceh. nah.. dana itu seharusnya
dipergunakan untuk pemugaran beberapa situs pariwisata di banda aceh, aceh
besar dan aceh tengah. Jadi mereka harus ngecek ke museum aceh, benteng
indrapurwa, museum gayo dan danau laut tawar.
Oleh
karena itu saya mengundang sohib sepakat sepenanggungan, tuanku ihsan dan
syahril, karena memang skill saya dalam mengemudi belum mendapat lisensi dari
yang berwajib dan pun sohib saya ini sangat lihai dalam menghangatkan suasana,
apalagi ihsan yang katanya aseli barang banda aceh, dia sangat paham tentang
sejarah dan cerita-cerita menarik tentang kota pejuang ini, ya… walau ga
paham-paham kali minimal lebih paham dari sayalah, hehe.. (semoga ihsan tidak membacanya).
Minggu-minggu
belakangan cukup menguras dan menggilas waktu-waktu produktif dengan kegiatan
bertaburan dengan manfaat serta pencapaian. Alhamdulillah semuanya berjalan
lancar dan juga kejut demi kejutan bermunculan. Intensi adrenalin pun naik turun,
tenaga yang terkikis oleh derasnya aktivitas serta iman yang tentu fluktuatif.
Seperti layaknya anda melihat saya bak manusia seperi anda juga yang kadang
merasakan emosi sedih dan juga riang, yang kapasitas keimanannya naik turun bak
air dilautan, yang seperti di sabdakan oleh idola kitabersama, Rasulullah nan agung.
Saya
sebut ini liburan karena memang semua kegiatannya cukup mengasyikkan, mulai
dari absen untuk ngopi, bakar kalori hamper stiap pagi walaupun malamnya tak
lupa snack (agar seimbang, hehe), tak lupa buku holic, nge-blog, serta olahraga
yang menjadi hobi yaitu berenang.Yang cukup mengherankan adalah tentang
berenang. Dalam dua minggu ini saya sudah 3 kali, saya ulangi sekali lagi ya,
sudah tiga kali saya mengunjungi pemandian air panas di daerah Krueng Raya yang
jaraknya dari rumah saya sekitar 40 menit perjalanan dengan si kharisma dengan
kecepatan rata-rata 60-80 km/jam.
Luar
biasanya adalah karena jarak yang begitu jauh dari rumah saya dan karena
pemandian air panas, jadi kami harus pergi pagi-pagi sekali. Karena kalau
matahari sudah tersenyum merekah maka suasana agak sedikit hangat bahkan mulai
panas, nah.. apa jadinya kalau cuaca panas dan kita mandi di air panas, jadilah
daging rebus (hiperbola.com) intinya adalah ketika suasana masih sejuk paling
pas mandi air hangat, nah situasi inilah yang kami incar.
Ba'da
subuh yang dingin, kami mulai mengas 'kharisma' masing-masing, tak lupa
dipersimpangan jalan berhenti sejenak untuk membeli nasi pagi, biar pas mandi
ga kelaperan. Dengan jaket seadanya, helm dikepala, tancap lagi menuju Krueng
Raya. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, sudah tiga kali kami berkunjung ke
aset wisata daerah Aceh Besar itu. Kunjungan pertama cukup berkesan, karena
tentu pertama mengunjunginya, jadi sperti turis2lah, lihat2 dulu ke daerah
kawahnya, kemudian foto-foto dan baru ke kegiatan inti yaitu berenang. Kenapa
kunjungan perdana cukup mengesankan karena pada saat itu kolam renangnya cukup
bersih dan kehangatan airnya pas, kata pengelolanya, baru aja dibersihkan dan
diganti airnya, jadi muantep.
Kunjungan
kedua kami lakukan tepat selang satu hari dari kunjungan pertama, lebih pas
saya sebut lusanya. Mantap kan.. ini baru namanya liburan. (maksa ya). Namanya
kunjungan kedua tidak se-surprise kunjungan perdana, pun pada saat itu airnya
terlalu panas (mungkin kompornya lupa dimatikan), jadi agak loncat-loncat
mandinya, bak cacing yang ke.... hehe..
Kebanyakan
masyarakat di kota-kota besar yang penduduknya dimanjakan oleh kepintaran mesin
sehingga membuat pekerjaan lebih simple. Oleh karena itu sehingga boleh
dikatakan masyarakat tersebut dikatagorekian obesitas. lemak yang seharusnya
digunakan untuk energy tambahan menjadi bertumpuk karena kegiatan yang menguras
energy tidak lagi dikerjakan sudah diambil oleh mesin.
Sebenarnya
kebangkitan teknologi berdampakl sangat positif bagi kehidupan masyarakat di
dunia pesinggahan ini. Jika panas tinggal pencet tombol berhembuslah angin dari
AC, ketika hendak berbicara dengan kerabat yang jauh tinggal pencet tombol
langsung bisa berbicara melalui hanpone. Ketika rindu berkomunikasi, melihat
gerak, interaksi lebih nyata tinggal gunakan internet, baju kotor masukkan saja
kedalam mesin, maka dengan contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa banyak
kegiatan berkeringat terkurangi akibat fatalnya adalah lemak bertumpuk, badan
kembung dan penyakit dengan lembut menyapa.
Setiap
diri manusia terdapat tiga potensi yang harus dimaksimalkan secara bersamaan. Nah,
ketika potensi tersebut adalah jasmani, fikiran, dan rohani, kali ini kita akan
membahas satu saja yaitu jasmani sedangkan dua lainnya akan kita bahas dalam
kesempatan bahagia lainnya. Doakan saja tidak mati lampu, karena jika listrik
padam, ide dan kreatifitaspun hilang.
Potensi
jasmani ini adalah badan serta fisik yang Nampak. Ketika semuanya berjalan lancer
maka tubuh segar, aktifitas pun sukses. Karena tiap kegiatan kita, apakah itu
ringan atau berat pasti memerlukan jasmani yang kuat. Sedikit saja terjadi
serangan pada kekuatan fisik maka satu tubuh ini akan kompak menyuarakan kesakitan.
Seperti halnya bisul yang tumbuh dikaki, walaupun dia berada di bawah tetap
saja sakit terasa di otak dan seluruh badan. Sehingga semua fungsi organ
serentak menyuarakan kata istirahat.
Apapun
profesi anda tidak dapat menolak fungsi fisik. Fisik yang kuat sangat
diperlukan. Prosesnya tentu tidak bisa secepat kilat. Dalam sekejab kita
mendapatkan fisik yang kuat atau ketika firus menyerang badan dan gejala sakit
menghadang, kita langsung vit seperti semula. Semua itu mustahil didapat namun
ada kemungkinan bisa saja terjadi jika kita memberikan nutrisi yang tepat bagi
tubuh ini. Ya.. nutrisi, sesuatu yang sangat diperlukan oleh jasmani kita,
yaitu olah raga. Proses mengeluarkan keringat tersebut bisa saja menjadinhal
yang sangat menyenangkan layaknya sebuah hobi, namun terkadang bisa juga
menjadi aktifitas yang membosankan, melelahkan membuang waktu serta energy. Tinggal
kita saja mengelola perasaan dan anggapan bahwa olahraga tersebut penting dan
mengasyikkan dan mencari suasana serta prasarana yang mendukung mewujudkan hal
tersebut.
Ternyata
hanya 20% dari jumlah penduduk Indonesian yang gemar membaca dan secara berkala
mengunjungi serta belanja di took buku. Angka yang fantastis menyedihkan bagi Negara
dengan jumlah total penduduknya sekitar 240 juta jiwa ini. Padahal total
penduduk produktifnya berjumlah 60%, nah apa jadinya kalau generasi muda jarang
atau phobia membaca, seperti saya yang pada masa jahiliyah dahulu.
Yups,
gaya baru telah merasuki kehidupan saya, yang mengubah seta menyita waktu-waktu
produktif di bumi yang senda gurau ini. Memang kebiasaan membaca dan membeli
buku telah mashur saya lakukan, walaupun frekuensinya tidak terlalu sering. Terkadang
ketika mengunjungi pameran atau toko buku terkadang diri ini tak kuasa menahan
tangan yang meraih dompet dan menyerahkan beberapa lembar isinya ke kasih, dan
terjadilah transaksi itu. Transaksi yang mengubah mata uang menjadi investasi
ilmu.
Setelah
aktifitas kampus lumayan sepi, karena mulai pensiun dari aktivitas jalanan,
maka banyak waktu luang tersisa. Dimulai dari mengunjungi teman, silaturrahmi,
ngopi, hang out, online dan kegiatan lainnya mengisi hari-hari. Nah, saat
itulah kebiasaan belanja, membaca buku membuncah kembali. Saat ini banyak buku
yang sudah terbeli tapi belum sampai halaman terakhir terbaca, ada beberapa
buku yang masih menyisakan tanda Tanya endingnya, bahkan ada yang covernya saja
belum tersentuh.
Mulailah
aktifitas membaca menjadi kegiatan di sela-sela berkeliaran di dunia yang fana
ini, bak seorang yang haus akan ilmu, satu persatu mulai saya lahap isi buku. Terkadang
nafsu ini membawa boomerang bagi kantong, pernah saya datang ke pameran buku
untuk melihat-lihat, dan tak terasa uang di kantong berganti buku setebal
kalkulus. Ya.. pada saat itu tersedia buku sejarah aceh yang sudah lama saya
incar, dan Alhamdulillah ketemu. Sepertinya saya sekarang harus agak menjauh
dari pameran atau took buku, takutnya semua tabungan terkuras.
Ada
hal yang saya rasa unik mengenai proses membaca buku. Pernah suatu saat saya
membeli buku yang berbau cinta, yaitu ‘kisah cinta para pejuang’ karangan Salim
A Fillah yang sudah menjadi best seller. Setelah terpukau, dibingungkan,
tercerahkan dan terceriakan dengan buku yang menjelaskan cerita cinta suci di
jalan pejuang beserta contoh menakjubkan yang membuat pikiran saya tercerahkan,
saya malah membeli buku cinta lainnya karangan Anis Matta yaitu ‘serial cinta’,
uniknya adalah di tengah-tengah saya menyelami arti cinta yang luas dari kedua
buku tersebut, saya menghadiri sebuah kajian yang rupanya sedang membahas bab
munakahat atau pernikahan, wuiihh.. tersenyum-senyum saat kajian tersebut.
tersenyum bukan karna baru pertama sekali menghadiri kajian tentang nikah, atau
isi materi yang jenaka tapi saya terkejut kok kajiannya klop banget dengan apa
yang sedang saya baca. Mungkin ini suatu petanda.. (biasa aja kaleee..).
sepertinya saya tinggal membeli buku ‘kado perkawinan’ saja…
Setelah
menjalani dua hari dan tiga malam kegiatan resmi bertemakan ‘summit’ yang
diluar ekspektasi, keceriaan itu pun berlanjut, setelah acara yls di tutup
sambil menunggu angkot yang membawa kami ke simpang dimana bus menuju jakarta
(karena kami di bogor), mulailah kunang-kunang ini bertingkah. Mulai dari
balas-balasan serta adu gombalisme, adu garing hingga saling ejek-mengejek yang
mengundang tawa besar bak bom bali II. Dan tawa itu berlanjut ketika kami sudah
berada di dalam angkot bahkan tawa tersebut makin parah ketika kami berada
dalam bus. Perjalanan dari bogor ke Jakarta yang menghabiskan waktu sekitar 3
jam terasa sangat singkat, ulah parah aktifis berbagai pergerakan ini menyatu
padu ketika berbicara tentang keceriaan. Mereka menawarkan games tipu daya
(permainan kata dan gerak), nyanyian sumbang, cerita ga nyambung sampai tingkah
laku janggal yang kesemuanya lagi-lagi membuat otot-otot pipi sakit dibuat,
karena harus tertawa.
Di
Jakarta kami menumpang di rumah bunda Tatty, seorang Pembina kunang-kunang
seluruh Indonesia, ya.. ia seorang pendiri sekaligus penasehat Forum Indonesia
Muda. Tak ayal, jika ada kunang-kunang dari seluruh Indonesia boleh datang dan
menginap di rumah ini, dan kamipun tak hanya numpang istirahat, termasuk
menumpang makan, bersih-bersih hingga menumpang ketawa. Malam tersebut, ketika
otot sudah member sinyal utk di offkan, ketika pipi kesakitan, ketika mata
sayu, namun bukan namanya aktifis kalau tidur cepat, bukan namanya
kunang-kunang kalau ngumpul ga heboh. Ya.. malam semakin larut tapi kami tetap
terjaga, bermain warewolf, sebuah permainan karakter serta kecerdasan dalam
menebak isyarat kata serta tingkah laku, yang menghanyutkan kami hingga tengah
malam “stay wake up, until drop”, begitulah kira-kira.
Kagum,
itulah kata yang menjadi kesimpulan ketika berinteraksi dengan keluarga bunda
Tatty. Mereka melaksanakan shalat tepat waktu serta berjamaah, dan setiap tamu
muslim yang datang wajib mengimami minimal di salah satu shalat wajib. Walaupun
kami tidur tengah malam, namun subuh berjamaah, dan setelahnya jarang ada yang
tidur. Suami bunda Tatty yaitu Pak Elmier, ternyata ia ceo dari sebuah
perusahaan, hal itu Nampak dari jam kantor pak elmir yang ia tentukan sendiri,
kadang-kadang berangkat jam 9, 10 atau jam 11. Wuiihh.. jadi terhindar dari
kemacetan. Keluarga inipun tak kalah romantis, terpampang foto-foto bahagia
mereka di dinding ruang tamu, di ruang tersebut juga terdapat sebuah piano, dan
pernah di suatu pagi bunda dan pak elmir memainkan piano bersama sambil menyanyikan
sebuah lagu romantic.. ah alangkah syahdunya, bak pengantin baru, aseli…irrriiii…
Kebiasaan
backpackers adalah malam begadang dan siang jalan-jalan, itulah yang kami
lestarikan. Ketika semuanya sudah berkemas, melangkahlah kami untuk pamitan,
tapi mbak jetc salah satu putri pemilik rumah tersebut bertanya kami khususnya
dari Aceh, apakah bisa tari saman, “tolong ajari dong anak2 FIM, mereka ada FIM
TA (traditional art), tapi pelatih samannya gada”, langsung ku iyakan dengan
anggapan bahwa saman=likok pulo dan liriknya memang sudah terposting di blog
ini, jadi tinggal buka lewat browser di hp. Rencana latihan narinya adalah
malam kamis dan dilanjutkan kamis pagi,karena pada saat itu adalah hari senin,
dan kami ingin mengunjungi beberapa kerabat sehingga baru bisa kembali rabu
malam, pun tiket kami ke aceh sudah terboking kamis sore, jadi klop.
Desember
02, 2011 di pagi yang menyejukkan badan, kulangkahkan kaki dengan tas di bahu
berangkat menuju bandara, memecahkan kesunyian dan kedinginan pagi itu. Ketika
sebagian orang menikmati istirahatnya yang akan mengembalikan energy untuk
beraktifitas ketika matahari menyongsong, saat sang mu’azin subuh hendak
mengumandangkan panggilan di pagi itu, ku meraba dengan pandangan mengira bahwa
bandara sudah mendekat. Tak
lama setelah ibadah shubuh ku tunaikan, panggilan untuk boarding pun terdengar
dan kami pun meminjam sayap si burung besi untuk terbang menerawang langit dan
memecahkan awan serta kabut untuk mendarat di bandara ibukota Negara, untuk
bertemu para pemuda harapan bangsa, yang senyumnya di rindukan, fikirannya
dapat mencerahkan serta tingkah lakunya menjadi teladan. Dengan harapan bahwa
kisah perjalanan kali ini akan menjadi
tambahan wawasan, perbendaharaan teman serta banyak kegiatan-kegiatan kebajikan
ditoreskan.
Sebenarnya
niat mula untuk mendaftar kegiatan ini bukan untuk mendapatkan esensi inti dari
diskusi ataupun aksi nyata yang ditawarkan dalam kegiatan, tapi lebih pada
dapat berjumpa keluarga kunang-kunangku yang berasal dari berbagai daerah
Indonesia. Ya.. memang kegiatan Forum Indonesia Muda begitu banyak menggoreskan
kisah yang tak terlupa sehingga membuat kami bak satu keluarga dengan satu asa,
untuk Indonesia kami berjuang, kesejahteraan dan kejayaan bangsa. Alih-alih
dengan alasan tersebut, kami bersepakat untuk mendaftar dengan keseriusan
tingkat tinggi, dengan harapan lulus dan dapat mengambil esensial dari kegiatan
yang ditawarkan dan sekaligus reunian. Ternyata, panitia inti dari kegiatan ini
merupakan kunang-kunang yang seangkatan dengan ku, wah.. jadi makin terasa
aroma kelulusan.
Seperti
angin segar yang berhembus mengabarkan kabar ceria bahwa nama ku terdaftar
dalam susunan nama yang lulus mengikuti kegiatan, berikut dengan sahabatku dari
medan, bandung, padang, bogor, Makassar, banjar dan wilayah pulau jawa lainnya.
Dari aceh sendiri delegasi berjumlah 2 orang, aku dan teman ngopiku. Ya..
memang kami sama-sama mendaftar dengan tujuan utama jalan-jalan,(dasar
mahasiswa) hehe..
Kabar
kelulusan tersebut segera meledak di dunia maya, janji-janji reuni di beberapa
tempat diseputaran Jakarta pun terucap, kami sendiri sepakat untuk membeli
tiket pergi saja, sedangkan kepulangan akan disesuaikan dengan rencana
jalan-jalan bersama, maklum, mahasiswa tingkat akhir, jadi leluasa untuk
mengatur jadwal kuliah. Sebenarnya aku masih mengambil beberapa mata kuliah,
jempol saya berikan kepada dosen pembimbing mata kuliah tersebut yang sangat
paham dengan keinginan yang membuncah di dalam dada tentang perjalanan ke
Jakarta kali ini, sehingga tanpa banyak berfikir langsung saya kirimkan email
ke dosen pembimbing termasuk ke ketua jurusan perihal tentang izin agar
meninggalkan beberapa pertemuan kuliah untuk berangkat mengikuti ‘young leaders
summit’. Saya bersembunyi di balik nama ‘summit’ tersebut, karena persepsi kami
dan para dosen mendengar kata tersebut merupakan kata yang mujarab dan luar
biasa jika seorang mahasiswa bisa ikut sebagai peserta, walaupun kenyataannya
sangat bertolak belakang(semoga dosen saya tidak membacanya, hehe), Dan izinpun
ku dapat.
Akhirnya
kami pun bertemu di villa aryanti, cisarua, bogor. Kegaduhan dan suara ketawa
melengking mewarnai acara resmi yang diadakan. Walaupun tak bertemu lebih
kurang sebulan, tapi perasaan seperti keluarga yang tidak pernah bertemu dua
dekade (hiperbola.com). akhirnya keadaan kami sebagai keluarga kunang-kunang
pun terasa ekslusif, ketika ngumpul bareng, makan bareng, main bareng, diskusi
bareng, sampai buat ribut pun bareng. Memang sih terasa seperti mencemarkan
nama baik alumni FIM, hehe..
Pada
acara Young Leaders Summit ini pesertanya di bagi berdasarkan nama-nama
pahlawan di Indonesia. Aku dan 3 alumni FIM 11 masuk dalam kelompok Sam Ratulangi
bersama 15 pemuda luar biasa lainnya yang berasal dari berbagai latar belakang
serta pergerakan, termasuk juga umur, ada yang sudah sarjana, nikah dan
bekerja, walaupun ada juga yang baru SMA. Jadi sangat nyaman bergabung dengan
barisan senior di belakang. Hehe
Sebelum saya menggoreskan lebih
banyak kata-kata serta cerita tentang pelatihan Forum Indonesia Muda, terlebih
dahulu saya ingin mempertegas bahwa baru kali ini saya mengikuti forum nasional
yang menghimpun pemuda dari seluruh Indonesia dan dari berbagai latar belakang
serta ideologi fikiran dan kami merasa seperti satu keluarga besar yang
mempunyai arah dan tujuan yang sama, untuk membangun Indonesia yang lebih baik.
Biasanya jika mahasiswa bertemu di forum nasional pasti beradu argument, saling
debat pendapat dan yang paling parah tuan rumah yang mengadakan acara tersebut
menjadi pihak yang dirugikan karena ulah para peserta undangan kegiatan yang
banyak permintaan. Tapi sangat berbeda dengan FIM, seperti yang kita baca pada testimoni
para alumni, forum ini menawarkan hubungan kekerabatan dan persahabatan, dimana
mahasiswa dari seluruh penjuru bisa mengenal, bertukar fikiran, bekerja sama
serta saling berbagi. Dan karena pesertanya berasal dari berbagai daerah
tentunya layaknya sebuah keluarga besar, jika satu anggota keluarga berkunjung
ke berbagai kota di Indonesia ia dapat menginap di rumah keluarganya, misalnya
anak aceh yang berkunjung ke bandung, ia dapat menginap di rumah teman alumni
FIM lainya yang berada di kota tersebut, dan hal itu sudah saya lakukan.. (hehe
ketahuan yak.. maklum masih mahasiswa).
Baik, mari kita mulai dengan kenapa
saya ikut mendaftar di kegiatan ini. Ketika suntuk menghadang, minim kompetisi
dan perasaan puncak ingin naik pesawat lagi dan diperparah dengan kawan
seangkatan yang mengikuti banyak lomba dan berangkat ke luar daerah, disaat
itulah bergejolak perasaan untuk berjuang keras ikut kompetisi yang membawa
diri ini ke ibukota. Dan tersebutlah nama saya diantara 130 peserta lainnya
yang lolos untuk mengikuti pelatihan FIM.
Untuk kedua
kalinya salah satu Negara bermata sipit datang ke Aceh untuk mempromosikan
pendidikan tinggi di Negara mereka. Ya.. Taiwan Higher Education Fair digelar
lagi di Aceh, tepatnya di kawasan kampus ternama di Aceh. Untuk kedua kalinya
mereka datang khusus dari Negara Formosa khusus ke Indonesia untuk mengundang
putra-putri terbaik bangsa untuk melanjutkan studinya di Taiwan. Sama seperti
tahun kemarin, para Taiwanese ini datang dengan membawa informasi lengkap
tentang universitas, gaya hidup, entertainment serta informasi berguna lainnya
yang tentu akan memperluas si calon penerima beasiswa ditambah dengan beberapa
souvenir unik dari masing-masing universitas dan daerah untuk menarik
pengunjung. Namun tahun ini ada sedikit perbedaan, ada plus dan minusnya.
Plusnya adalah kali ini mereka tidak hanya menawarkan informasi tentang
universitas dan beasiswa namun juga mereka langsung mengadakan test bagi calon
penerima beasiswa. Yang minusnya adalah universitas yang hadir menyusut sekitar
10 universitas dari tahun kemarin, bisa jadi disebabkan oleh banyak
faktor,ya…kita Cuma bisa berfikir
positif sob.
Terlepas
dari maksud dibalik layar, terlepas dari “tidak ada makan siang gratis” dan
maksud hati untuk berprasangka baik terhadap perbuatan baik yang dilakukan oleh
orang lain saya mewakili pribadi (sedapp.. gaya pidatonya sby nih)
mengancungkan dua jempol untuk pemerintah Taiwan yang sudi kiranya berangkat
dari Negara nan jauh di sana menghabiskan 4 jam perjalanan ke negeri
khatulistiwa khusus untuk mengundang putra-putri terbaik bangsa untuk
melanjutkan dan merajut mimpinya di Negara yang menggunakan bahasa mandarin
tersebut. Walaupun nantinya ada timbal balik dari pemerintah Indonesia atau
khususnya aceh untuk membalas budi tersebut. ya.. seperti yang saya sebutkan di
atas, namanya juga perbuatan baik, harus kita terima daripada susah-susah
memikirkan efek negatifnya yang membuat makin kusut pikiran di kepala, jadi
tambah tua, nambah banyak dosa, akhirnya masuk neraka, Astaghfirullah..!!
Pada
tahun kedua ini saya diberi kesempatan untuk menjadi pendamping stan National
Koahsiung First University of Science and Technology (NKFUST) mantap nama
universitasnya kan, panjangnya seperti kereta api. Pertama kali mendengar bahwa
saya ditugaskan di universitas ini saya langsung tersenyum, karena kota
Koahsiung pernah saya kunjungi setahun yang lalu, tepatnya di bulan September tanggal
17-19 tahun 2011. Kunjungan selama dua hari tersebut dimaksudkan untuk
menghadiri sekaligus memenuhi undangan sebagai salah satu pembicara di
International Conference on Open Source (ICOS) di Koahsiung Medical University.
Kalau sobat-sobat membuka fb saya di daftar album anda bisa melihat foto-foto
saat saya menjadi pemateri di seminar internasional judul albumnya “invited
Speaker” (promosi dikit boleh kan, hehe).
Judul
diatas merupakan slogan nya Airasia.com. karena memang sangat mudah dan gampang
untuk terbang dengan Airasia. Dengan maskapai tersebutlah aku melakukan
perjalanan sebagai Backpaker yang juga melengkapkan kunjungan Negara kelima. Ya..
Alhamdulillah kaki ini sudah menginjakkan di lima Negara berbeda, Indonesia,
Jepang, Taiwan, Malaysia dan Singapura. Semua Negara tersebut aku kunjungi
dalam berbagai kesempatan dan keperluan, kali ini aku akan berbagi tentang kunjungan
ke Negara tetangga kita Malaysia dan Singapura, dengan tujuan menjadi Hikmah
dan pengingat bagi pribadi yang lalai ini. Semoga Allah menjauhkan dari tujuan
Riya’, Takabbur dan Sombong,…
Berawal
dari duduk-duduk santai di salah satu kedai kopi di kawasan Banda Aceh, aku dan
kawanku Ihsan iseng berencana berangkat ke Malaysia. Kami memutuskan untuk
berangkat bulan agustus dengan pertimbangan kawan SMAku Muksin yang sedang
menempuh studinya di UKM akan wisuda, sekalian ngerayain wisuda plus
jalan-jalan, tempat tinggal kan bisalah tidur di tempat kosnya muksin. Akhirnya
tiketpun di pesan jauh-jauh hari agar dapat promo.
Bulan
agustus pun menyapa, ternyata ada pengunguman dari pihak universitas bahwa
pesta wisuda di tunda ke bulan September, mengingat bulan agustus bertepatan dengan
Ramadhan. Karena bulan agustus ini kegiatan akademikku sudah libur, akhirnya
aku dan Ihsan berangkat ke Malaysia walaupun sebelumnya harus duduk beberapa
kali di warung kopi untuk menyusun ulang planning.
Pramugari
pun menyambut dengan ramah keberangkatan kami (memang tugasnya ya..? hehe),
rupanya kami satu pesawat dengan mahasiswa pertukaran ke Korea, salah satunya
adalah Mulkan. Aku mengenal mulkan pertama kali sewaktu di Taiwan, dia memang
anak kesayangan dosen dan mahasiswa berprestasi di Teknik Elektro. Bibit unggul
lah… Rupanya mahasiswa pertukaran ke Korea ini harus transit di Malaysia selama
sehari, karena penerbangan mereka ke Korea malam keesokan harinya. Jadi di kabin
pesawat itu duduklah aku, Ihsan dan Mulkan. Kami hitung-hitung berapa biaya
yang mulkan dkk akan habiskan untuk menginap sehari di Malaysia. Di iringi
dengan tawa dan canda yang menggelegar kami berdiskusi, seolah-olah tidak ada
orang lain berada di samping.
Singkat
cerita kami memilih untuk stay satu malam di rumah kak putri, kakak sepupunya
Mulkan, karena berdasarkan hitung-hitungan Mulqan ia lebih hemat untuk singgah
di rumah kak putri, selain di servis makanan dan tempat tinggal, bisa sekalian
silaturrahmi. Untuk urusan hitung-hitung jempol dah untuk Mulkan, hamper
mendekati pelit.. kwkwkw
Selama
di Malaysia, Ihsan menjadi Tourguide kami, karena dia yang paling berpengalaman
mengeksplore Malaysia dan sekitarnya, bayangkan aja tahun ini dia udah 7 kali
pulang pergi Malaysia.. tajir banget kan…(padahal tiket promo smua tu). Setelah
menginjakkan kaki di kosnya kak putri pada malam hari, setelah di jamu makan
dan minum, kami cerita-cerita sampai pagi menjelang, karena memang banyak hal nyentrik
yang terjadi yg tidak bisa ditulis disini, cukup menjadi konsumsi kami saja,
hehe
Pagi
harinya setelah pamit dari rumah kak putri kami keliling kota sebentar untuk
tukar uang dan ke kampus UKM, kemudian Mulkan dkk menuju bandara dengan taksi
dan kami berangkat menuju kota Kuala Lumpur. Hari itulah aku menaiki KL tower
yang menjadi lambangnya Malaysia. Semacam menara mesjid raya lah. Aku berada di
KL tower kurang lebih 2 jam, dengan pemandangan luarbiasa dari atas tower, aku
juga di beri kesempatan mengunjungi ruang Mega View yang ga sembarangan orang
bisa masuk, trus aku di kasih promo ngerayain wedding di atas tower. Memang ada
paketnya, jadi siapa aja yang mau merayakan pesta pernikahannya bisa memesan
tempat di sini. Ada yang Mau..?? trus di bawahnya ada zoo dengan berbagai macam
hewan, ada burung, ular, serta serangga.
Selepas
dari KL tower aku dan Ihsan hunting bukaan gratis. Yang menjadi destinasi kami
adalah mesjid di dekat menara kembar petronas. Menu bukaannya luar biasa, ada
nasi kotak plus bubur kanji.. untuk porsi backpacker udah lumayanlah malah
diatas standar. Tapi, pas pulangnya aku di timpa musibah, sepatu nike yang
kubeli di Taiwan di raib orang, Innalillah wa Inna Ilaihi Raji’un. Tak apalah,
hilang satu beli yang baru, hehe.. tapi kawanku Ihsan tak henti-hentinya
menyanyikan lagu ST12 dengan improvisasi lirik “Sudah kubilang, Hapus air
mata.. spatu ku hilang di malaysia” hehe…
Hari
berikutnya adalah hari jumat. Kami memutuskan untuk mengunjugi mesjid Shah
Alam, katanya sih fotonya sering di abadikan dalam kalender-kalender. Luar
biasa memang mesjidnya, aku pun sempat beli souvenir peci khas Malaysia dan
kami juga bertemu Maimun, mahasiswa yang belajar khaligrafi di salah satu
universitas di sana. Sepulang dari Shah Alam kami kembali menuju ke rumah kak
putri memenuhi undangan buka karena ada yang ulang tahun, hehe Alhamdulillah dapat
makan gratis lagi..
Belum
lagi merebahkan badan, di malamnya kami berangkat ke Singapura menggunakan
kereta api, kebayang ga, setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam PP ke Shah
alam, trus jalan lagi ke rumah kak putri, malamnya berangkat lagi ke Singapura,
Aseli dah.. pegal-pegal..nguap-nguap sepanjang jalan. Tapi dengan semangat
membara dan disokong oleh Toke Muksin kami berangkat ke Singapura. Muksin lah
yang membayar semua biaya perjalanan kami mulai dari naik kereta sampai turun
balik, karena cuman dia yang pegang dollar singapura. Ntah berapa dana yg kami
habiskan, Semoga Muksin sehat walafiat, dipermudah rizkinya dan ga minta balek
duit perjalanan ke Singapura, hehe (karena sampe sekarang belum aku bayar
dananya, semoga di hari raya bisa dimaafin dan lunas semua.. hehe)
Sesampai
di Singapura cuman satu tempat persinggahan kami dan kami menetap seharian
penuh di sana yaitu Marina Bay, Trademarknya Singapura. Itu tu.. tempat Singa
yang muntah (Ma lion). Perjalanan kami ke Singapura hanya satu hari, berangkat
malam sabtu baliknya malam minggu, jadi pesan tiket PP biar lebih murah, dan ga
usah pesan penginapan di Singapura langsung tidur sambil duduk di atas kereta..
hemat banget kan perjalanannya.
Karena
ga tau kemana lagi akhirnya kami duduk lesu di tengah keramaian pengunjung di
Marina Bay dan aku bahkan sampai tertidur (dasar backpacker), memang ada
pertunjukan music sih. Akhirnya kawanku Ihsan mengambil inisiatif untuk
mengontak pak Burhan, kenalannya di Singapura melalui Fesbuk. Ngeri juga ni
kawan, punya kenalan orang melayu, ga tanggung-tanggung pula tu kenalannya,
punya mobil super sport, trus kami di ajak keliling2 dengan tu mobil dan
tentunya di ajak berbuka gratis plus makan malam, tak sampai disitu aja, kami
dibeliin burger untuk sahur di kereta api… wuiihhh.. ngeri kan..?? sukses jadi
backpacker. Sesampainya di tempat kos muksin di Malaysia kami semua tertidur
pulas sampai sore, hingga sorenya baru bergerak lagi nyari bukaan gratis di
mesjid dekat rumah mukhsin. Tancap man…
Hari
berikutnya senin dan selasa aku habiskan untuk jalan-jalan serta belanja
sekitaran KL, sempat juga untuk beli souvenir di Pusanika UKM yang di temani
kak putri, karena ihsan harus ke kedutaan untuk mengurus paspor. Sempat aku
beli oleh-oleh gamis untuk ibuku tercinta, wuiihh.. warna dan bordirannya ok’s
banget, cocok lah untuk ibuku walaupun harganya juga ga tanggung-tanggung, tapi
untuk ibunda tercinta, hargapun tak terkira.
Malam
terakhir aku stay di Malaysia muksin dan kawan-kawannya ngajak kami untuk nonton bioskop di Putra
Jaya, walaupun ga sempat taraweh dengan alasan musafir (hehe), muksin pun
memesan tiket yang ga tanggung-tanggung film Harry Potter terbaru yang 3D.
Wah..malam penutup yang sempurna.
Alhamdulillah
kembali bisa menatap senyum pramugari Airasia yang berarti tandanya pulang ke
rumah, dengan membawa paspor yang terstempel 5 negara. Insya Allah akan
bertambah stempel nya dengan pengalaman dan cerita yang berbeda, diiringi
dengan kaki pegal-pegal, mata ngantuk dan berat badan yang turun sekitar 10
kilo, hehe
Desa Burlah, kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, 01 Februari 2011. Sekitar jam 16.15 rombongan Bakti Sosial Gerakan Mahasiswa Peduli Rakyat (Gempur) Aceh Pemerintah Mahasiswa (PEMA) Universitas Syiah Kuala yang berjumlah 45 orang tiba dengan sehat wal afiat. Rombongan kami yang diangkut dengan 5 mobil minibus disambut dengan senyuman dan keramahan warga desa Burlah. Masyarakat menyambut kami seakan-akan seperti menyambut saudara yang sudah lama tak berjumpa, terutama yang ibu-ibuseakan menyatu dan langsung akrab dengan masyarakat.
Aku salah satu relawan Gempur dan juga diamanahkan untuk mengkomandoi kawan-kawan relawan lainnya mencoba untuk menyapa dan membaur dengan masyarakat yang akan menjadi perhatian, sasaran bahkan teman untuk 10 hari kedepan. Walaupun dalam perjalanan keberangkatan dari kampus menuju desa sasaran dilalui dengan banyak rintangan dan permasalahan. Mulai dari pengaturan logistic dan transportasi relawan sebelum keberangkatan sampai dengan ulah sopir yang mengesalkan.
Saat kuinjakkan langkah pertama di desa Burlah, masih kusimpan energy dan semangat untuk mengabdi, setelah menurunkan smua barang dan logistic ke rumah kost kami (sebutan untuk rumah relawan), karena rumah kost laki-laki terpisah dengan perempuan maka aku bersama 4 mobil minibus lainnya ditemani warga beranjak ke atas bukit untuk mengantarkan relawan perempuan ke rumah kostnya di salah satu rumah warga. Setelah smuanya selesai aku pun kembali ke rumah kost yang menjadi istana selama 10 hari kedepan.
Langit mendung yang memberi sinyal akan turunnya hujan lebat menemani sore itu, ku lihat rumah kostku yang gelap tanpa sinaran lampu karena pada saat itu listrik sedang padam, dapur yang luas berlantaikan tanah, 2 kamar tidur dan 1 ruang tamu serta bak mandi besar di samping rumah itulah rumah kost kami yang dihuni oleh 25 orang relawan. Pada saat itulah aku kehilangan ide serta pikiran terasa buntu. Barang logistic yang berserakan ditambah dengan tidak adanya sinyal di handphone ku serta hari yang semakin gelap menambah kebuntuan. Ku dengar desus suara kawanku berbicara tentang banyak pertanyaan yang ditujukan kepadaku, tak satupun dapat ku jawab.
Sambil menarik nafas panjang, aku duduk di dapur sambil merenung untuk mencari semangat yang redup. Memang 3 bulan yang lalu ku lalui hari-hari di zaman serba berteknologi tinggi, di Negara bermata sipit semuanya serba mudah dan lengkap. Sarana transportasi yang cepat, tempat tinggal yang nyaman, teknologi modern serta masyarakat berpendidikan. Tapi hari ini, smuanya terasa berada di alam yang berbeda. Smua keadaan terbalik, seakan-akan aku berada di sisi mata uang yang berbeda. Proses inilah yang sangat mengesankan. Teringat bahwa Allah tidak akan memberi tantangan yang tidak sanggup aku lalui, teringat pula amanah ini diberikan kepadaku karena mereka yakin bahwa aku mampu melewatinya dan kubakar semangat ini dengan kata-kata “kalau pemimpinnya saja sudah lemah, tidak semangat, cengeng apalagi pengikutnya”, ku kumpulkan smua energy yang sudah jauh-jauh hari sebelum baksos sudah kusiapkan, ku ingat kembali smua kata-kata motivasi yang pernah keluar dari bibirku maupun dari bibir teman-teman terbaikku, inilah waktunya mengabdi danmemanfaatkan potensi diri. Langsung kugerakkan langkah memecahkan satu persatu permasalahan serta menuruti saran-saran yang ditawarkan oleh kawan-kawan relawan.
Matahari pun bersembunyi di balik gunung dan gelap malam pun menyapa. Hujan menemani shalat magrib yang dilanjutkan dengan jama’ isya. Setelah itu ku langkahkan kaki menembus gelapnya malam bermodalkan lampu handphone menaiki bukit yang terjalnya hampir 45 derajat plus membawa beberapa barang menuju tempat kost perempuan untuk mendiskusikan beberapa hal menyangkut keadaan serta konsumsi pada malam itu. Kami sepakat untuk makan bersama di mesjid yang berada di bukit pada jam 8 malam. Setelah kembali ke kost aku menaiki bukit untuk kedua kalinya bersama smua relawan laki-laki menuju mesjid untuk makan malam sambil membawa nasi dan air. Karena hujan semakin lebat, akhirnya smua relawan perempuan makan di rumah kost sedangkan kami makan di mesjid. Makan malam pertama kami, ditemani dengan lampu senter, baju yang basah, serta nasi dan ikan seadanya. Setelah smuanya selesai kami pun kembali ke rumah kost yang berada di bawah. Sesampainya di tempat kost, aku harus kembali lagi ke mesjid untuk mengepel lantai mesjid yang kotor dan jorok karena kami masuk dengan keadaan basah kuyup. Langsung kupinjam sepeda motor kepala desa dan membawa kain pel bersama seorang teman. Setelah smuanya selesai langsung kurebahkan badan ini di ruang tamu rumah kost, rumah yang kupikir tidak akan muat untuk menampung 25 badan untuk tidur rupanya pas-pasan dan kawan-kawan tertidur pulas.
Tak terasa smua tantangan kulalui bersama kawan-kawan yang luar biasa, mungkin jika kisah ini diulang kembali tak ada jaminan bahwa diri ini sanggup untuk melewatinya kembali, menaiki dua kali bukit yang terjal bersama barang bawaan serta ditemani hujan. Memang Allah tidak akan memberi tantangan yang tak sanggup kita lewati. Hari pertama penuh kisah di desa Burlah kututup dengan doa syukur dan berharap agar Allah membangunkan jasad ini pada keesokan harinya di waktu subuh.
July 25th is my First time to see the sunrise in Formosa (Taiwan) land. I was in Taiwan for internship, starts from July to September 2010 in Research Center for Information Technology Innovation Academia Sinica Taiwan. This program is a part of cooperation between Academia Sinica and Mathematics Department, Syiah Kuala University. Every year start from 2009, 2 students will send to Taiwan to learn open source.
My first in the internship was memorable. In early morning I walked from my apartment to my office. Step foot on that morning much faster and enjoyable. I felt different on that morning, the spirit and my body condition is better than before. I walked like a teenager in Taiwan that runs with an upbeat style while listening to music with headset from my mobile phone. Indeed, the atmosphere that morning was not so oppressive because the streets wet with rain that came down, but the sweat still poured. Walked from my apartment to my office make me become more healthy and fit. I had to hurry, because I should get to the office on time. The day that I arrived in Taipei, Mr. Marr (my advisor in Taiwan) gave map to me, the map that show the direction where is my office.
Apparently here every vehicle running on the right, so I feel a little weird but fun. After walking for 25 minutes, I arrived at the Information Science Institute building. The map showed the building is the place where I would intern. When the main doors opened automatically I asked the officer at the front desk what floor is for intern students.
That day I met lots of Taiwanese friends, because many researchers at the building said hello and we exchanged business cards. Tim is my mentor. He guided me during the internship. My first task is to learn about Media Wiki. They gave me a week's time to learn about Media Wiki, ranging from installation and modification. But in the afternoon I completed all of my tasks and Tim was very surprised and he confused what should I do next.
Internship in Taiwan is impressive. I had to adapt to new neighborhood. Actually the adaptation process was quite impressive. Tried to get used to with new habit and get used to new neighborhood where not all could run smoothly as I think and unexpected incident sometimes happen. I looked for the answer to make the condition remains stable. It wasn’t easy to get through all this, but I feel the power that was always pushed and watched me one of them is the power of prayer from my parents.
Taiwanese live in modern and advance city. In many cases they are really care about disabled persons, parents, pregnant women and small children. Other rules if you are not in hurry you should walk in right side and if you want to walk quickly you should take left side.
After one month on in Taiwan, experienced many things, there are few complaints and also amazed. I also have a chance to feel Ramadhan in Taiwan. At weekend in the first week of Ramdhan as usual, quite impressive, exhausted and full of challenge, of course accompanied by sore feet, yes .. Although the transportation here is adequate but we still have to walk to find info about transportation or the place we were going to visit. The most experience that really meaningful to me is I have chance to celebrate my Iedul Fitri in Taiwan. That was a first time I celebrated Iedul Fitri not in my home even not in my country. I felt little bit sad, regret and upset but when the day of Iedul Fitri I met lots of Indonesian friends and celebrated it with explore Taipei city.
ICOS 2010
When I was internship I also have a chance to follow International Conference on Open Source (ICOS) 2010, held from September 17-19, in Koahsiung, Taiwan. I was one of the invited speakers. My presentation is about partnership between Aceh and Taiwan Community. On that presentation I explained about Aceh province, Syiah Kuala University, and about Tsunami and earth quake that hit Aceh in December 26, 2004.
I also explain that immediately aids from Taiwanese came just after Tsunami and earth quake hit Aceh. The aids almost 200 tons includes food, clothes and daily needs and Taiwanese also builds many buildings and houses. The aids still continue till now and total of the aids more than 50 million US Dollar. And right now the biggest aids for Syiah kuala University is ICT buildings. The building is use for development ICT in Aceh, also becomes the place to teach computer for teachers. It cost 2 million US Dollars. The aids also come from ADOC, they give 20 computers and 20 laptops.
The partnership between Aceh and Taiwan community also gives chance for young talented Aceh student to internship in Academia Sinica. The program starts from 2009 till now. This program gives chance to Aceh student to learn open source, open their mind about Taiwanese culture and advance technology. They also have chance to communicate with other people and share ideas. Taiwan also sends their student from National Tsing Hua University. From 2008 till now they sent volunteers to teach open source in rural area in Aceh province. The program called E-Mate (E-Learning Medan Aceh Taiwan).
To conclude my presentation, in my opinion the partnership between Aceh and Taiwan community need improvements, because Taiwan and Aceh need each other to develop their country. They need community development to keep this condition such as discussion on mailing list or share with others people to let them now the condition. Taiwan also needs to engage with global community and strengthen the volunteers program. Taiwan needs Aceh because they have to learn about culture and let the Taiwanese communicate with global community with global language, not only mandarin.
Aceh also need help from Taiwan, student from Aceh have to continue their study in Taiwan, and also they need to strengthen the internship program, so Aceh student can learn more not only about open source but also Taiwanese culture.
In ICOS, I also have a chance to engage to global community because in ICOS lots participant from overseas, so we could know each other and had a warm discussions.
July 25th is my First time to see the sunrise in Formosa (Taiwan) land. I was in Taiwan for internship, starts from July to September 2010 in Research Center for Information Technology Innovation Academia Sinica Taiwan. This program is a part of cooperation between Academia Sinica and Mathematics Department, Syiah Kuala University. Every year start from 2009, 2 students will send to Taiwan to learn open source.
My first in the internship was memorable. In early morning I walked from my apartment to my office. Step foot on that morning much faster and enjoyable. I felt different on that morning, the spirit and my body condition is better than before. I walked like a teenager in Taiwan that runs with an upbeat style while listening to music with headset from my mobile phone. Indeed, the atmosphere that morning was not so oppressive because the streets wet with rain that came down, but the sweat still poured. Walked from my apartment to my office make me become more healthy and fit. I had to hurry, because I should get to the office on time. The day that I arrived in Taipei, Mr. Marr (my advisor in Taiwan) gave map to me, the map that show the direction where is my office.
Apparently here every vehicle running on the right, so I feel a little weird but fun. After walking for 25 minutes, I arrived at the Information Science Institute building. The map showed the building is the place where I would intern. When the main doors opened automatically I asked the officer at the front desk what floor is for intern students.
That day I met lots of Taiwanese friends, because many researchers at the building said hello and we exchanged business cards. Tim is my mentor. He guided me during the internship. My first task is to learn about Media Wiki. They gave me a week's time to learn about Media Wiki, ranging from installation and modification. But in the afternoon I completed all of my tasks and Tim was very surprised and he confused what should I do next.
Internship in Taiwan is impressive. I had to adapt to new neighborhood. Actually the adaptation process was quite impressive. Tried to get used to with new habit and get used to new neighborhood where not all could run smoothly as I think and unexpected incident sometimes happen. I looked for the answer to make the condition remains stable. It wasn’t easy to get through all this, but I feel the power that was always pushed and watched me one of them is the power of prayer from my parents.
Taiwanese live in modern and advance city. In many cases they are really care about disabled persons, parents, pregnant women and small children. Other rules if you are not in hurry you should walk in right side and if you want to walk quickly you should take left side.
After one month on in Taiwan, experienced many things, there are few complaints and also amazed. I also have a chance to feel Ramadhan in Taiwan. At weekend in the first week of Ramdhan as usual, quite impressive, exhausted and full of challenge, of course accompanied by sore feet, yes .. Although the transportation here is adequate but we still have to walk to find info about transportation or the place we were going to visit. The most experience that really meaningful to me is I have chance to celebrate my Iedul Fitri in Taiwan. That was a first time I celebrated Iedul Fitri not in my home even not in my country. I felt little bit sad, regret and upset but when the day of Iedul Fitri I met lots of Indonesian friends and celebrated it with explore Taipei city.
ICOS 2010
When I was internship I also have a chance to follow International Conference on Open Source (ICOS) 2010, held from September 17-19, in Koahsiung, Taiwan. I was one of the invited speakers. My presentation is about partnership between Aceh and Taiwan Community. On that presentation I explained about Aceh province, Syiah Kuala University, and about Tsunami and earth quake that hit Aceh in December 26, 2004.
I also explain that immediately aids from Taiwanese came just after Tsunami and earth quake hit Aceh. The aids almost 200 tons includes food, clothes and daily needs and Taiwanese also builds many buildings and houses. The aids still continue till now and total of the aids more than 50 million US Dollar. And right now the biggest aids for Syiah kuala University is ICT buildings. The building is use for development ICT in Aceh, also becomes the place to teach computer for teachers. It cost 2 million US Dollars. The aids also come from ADOC, they give 20 computers and 20 laptops.
The partnership between Aceh and Taiwan community also gives chance for young talented Aceh student to internship in Academia Sinica. The program starts from 2009 till now. This program gives chance to Aceh student to learn open source, open their mind about Taiwanese culture and advance technology. They also have chance to communicate with other people and share ideas. Taiwan also sends their student from National Tsing Hua University. From 2008 till now they sent volunteers to teach open source in rural area in Aceh province. The program called E-Mate (E-Learning Medan Aceh Taiwan).
To conclude my presentation, in my opinion the partnership between Aceh and Taiwan community need improvements, because Taiwan and Aceh need each other to develop their country. They need community development to keep this condition such as discussion on mailing list or share with others people to let them now the condition. Taiwan also needs to engage with global community and strengthen the volunteers program. Taiwan needs Aceh because they have to learn about culture and let the Taiwanese communicate with global community with global language, not only mandarin.
Aceh also need help from Taiwan, student from Aceh have to continue their study in Taiwan, and also they need to strengthen the internship program, so Aceh student can learn more not only about open source but also Taiwanese culture.
In ICOS, I also have a chance to engage to global community because in ICOS lots participant from overseas, so we could know each other and had a warm discussions.