Thursday, 1 September 2011

Book, Pack and Gooo


Judul diatas merupakan slogan nya Airasia.com. karena memang sangat mudah dan gampang untuk terbang dengan Airasia. Dengan maskapai tersebutlah aku melakukan perjalanan sebagai Backpaker yang juga melengkapkan kunjungan Negara kelima. Ya.. Alhamdulillah kaki ini sudah menginjakkan di lima Negara berbeda, Indonesia, Jepang, Taiwan, Malaysia dan Singapura. Semua Negara tersebut aku kunjungi dalam berbagai kesempatan dan keperluan, kali ini aku akan berbagi tentang kunjungan ke Negara tetangga kita Malaysia dan Singapura, dengan tujuan menjadi Hikmah dan pengingat bagi pribadi yang lalai ini. Semoga Allah menjauhkan dari tujuan Riya’, Takabbur dan Sombong,…
Berawal dari duduk-duduk santai di salah satu kedai kopi di kawasan Banda Aceh, aku dan kawanku Ihsan iseng berencana berangkat ke Malaysia. Kami memutuskan untuk berangkat bulan agustus dengan pertimbangan kawan SMAku Muksin yang sedang menempuh studinya di UKM akan wisuda, sekalian ngerayain wisuda plus jalan-jalan, tempat tinggal kan bisalah tidur di tempat kosnya muksin. Akhirnya tiketpun di pesan jauh-jauh hari agar dapat promo.
Bulan agustus pun menyapa, ternyata ada pengunguman dari pihak universitas bahwa pesta wisuda di tunda ke bulan September, mengingat bulan agustus bertepatan dengan Ramadhan. Karena bulan agustus ini kegiatan akademikku sudah libur, akhirnya aku dan Ihsan berangkat ke Malaysia walaupun sebelumnya harus duduk beberapa kali di warung kopi untuk menyusun ulang planning.
Pramugari pun menyambut dengan ramah keberangkatan kami (memang tugasnya ya..? hehe), rupanya kami satu pesawat dengan mahasiswa pertukaran ke Korea, salah satunya adalah Mulkan. Aku mengenal mulkan pertama kali sewaktu di Taiwan, dia memang anak kesayangan dosen dan mahasiswa berprestasi di Teknik Elektro. Bibit unggul lah… Rupanya mahasiswa pertukaran ke Korea ini harus transit di Malaysia selama sehari, karena penerbangan mereka ke Korea malam keesokan harinya. Jadi di kabin pesawat itu duduklah aku, Ihsan dan Mulkan. Kami hitung-hitung berapa biaya yang mulkan dkk akan habiskan untuk menginap sehari di Malaysia. Di iringi dengan tawa dan canda yang menggelegar kami berdiskusi, seolah-olah tidak ada orang lain berada di samping.
Singkat cerita kami memilih untuk stay satu malam di rumah kak putri, kakak sepupunya Mulkan, karena berdasarkan hitung-hitungan Mulqan ia lebih hemat untuk singgah di rumah kak putri, selain di servis makanan dan tempat tinggal, bisa sekalian silaturrahmi. Untuk urusan hitung-hitung jempol dah untuk Mulkan, hamper mendekati pelit.. kwkwkw
Selama di Malaysia, Ihsan menjadi Tourguide kami, karena dia yang paling berpengalaman mengeksplore Malaysia dan sekitarnya, bayangkan aja tahun ini dia udah 7 kali pulang pergi Malaysia.. tajir banget kan…(padahal tiket promo smua tu). Setelah menginjakkan kaki di kosnya kak putri pada malam hari, setelah di jamu makan dan minum, kami cerita-cerita sampai pagi menjelang, karena memang banyak hal nyentrik yang terjadi yg tidak bisa ditulis disini, cukup menjadi konsumsi kami saja, hehe
Pagi harinya setelah pamit dari rumah kak putri kami keliling kota sebentar untuk tukar uang dan ke kampus UKM, kemudian Mulkan dkk menuju bandara dengan taksi dan kami berangkat menuju kota Kuala Lumpur. Hari itulah aku menaiki KL tower yang menjadi lambangnya Malaysia. Semacam menara mesjid raya lah. Aku berada di KL tower kurang lebih 2 jam, dengan pemandangan luarbiasa dari atas tower, aku juga di beri kesempatan mengunjungi ruang Mega View yang ga sembarangan orang bisa masuk, trus aku di kasih promo ngerayain wedding di atas tower. Memang ada paketnya, jadi siapa aja yang mau merayakan pesta pernikahannya bisa memesan tempat di sini. Ada yang Mau..?? trus di bawahnya ada zoo dengan berbagai macam hewan, ada burung, ular, serta serangga.
Selepas dari KL tower aku dan Ihsan hunting bukaan gratis. Yang menjadi destinasi kami adalah mesjid di dekat menara kembar petronas. Menu bukaannya luar biasa, ada nasi kotak plus bubur kanji.. untuk porsi backpacker udah lumayanlah malah diatas standar. Tapi, pas pulangnya aku di timpa musibah, sepatu nike yang kubeli di Taiwan di raib orang, Innalillah wa Inna Ilaihi Raji’un. Tak apalah, hilang satu beli yang baru, hehe.. tapi kawanku Ihsan tak henti-hentinya menyanyikan lagu ST12 dengan improvisasi lirik “Sudah kubilang, Hapus air mata.. spatu ku hilang di malaysia” hehe…
Hari berikutnya adalah hari jumat. Kami memutuskan untuk mengunjugi mesjid Shah Alam, katanya sih fotonya sering di abadikan dalam kalender-kalender. Luar biasa memang mesjidnya, aku pun sempat beli souvenir peci khas Malaysia dan kami juga bertemu Maimun, mahasiswa yang belajar khaligrafi di salah satu universitas di sana. Sepulang dari Shah Alam kami kembali menuju ke rumah kak putri memenuhi undangan buka karena ada yang ulang tahun, hehe Alhamdulillah dapat makan gratis lagi..
Belum lagi merebahkan badan, di malamnya kami berangkat ke Singapura menggunakan kereta api, kebayang ga, setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam PP ke Shah alam, trus jalan lagi ke rumah kak putri, malamnya berangkat lagi ke Singapura, Aseli dah.. pegal-pegal..nguap-nguap sepanjang jalan. Tapi dengan semangat membara dan disokong oleh Toke Muksin kami berangkat ke Singapura. Muksin lah yang membayar semua biaya perjalanan kami mulai dari naik kereta sampai turun balik, karena cuman dia yang pegang dollar singapura. Ntah berapa dana yg kami habiskan, Semoga Muksin sehat walafiat, dipermudah rizkinya dan ga minta balek duit perjalanan ke Singapura, hehe (karena sampe sekarang belum aku bayar dananya, semoga di hari raya bisa dimaafin dan lunas semua.. hehe)
Sesampai di Singapura cuman satu tempat persinggahan kami dan kami menetap seharian penuh di sana yaitu Marina Bay, Trademarknya Singapura. Itu tu.. tempat Singa yang muntah (Ma lion). Perjalanan kami ke Singapura hanya satu hari, berangkat malam sabtu baliknya malam minggu, jadi pesan tiket PP biar lebih murah, dan ga usah pesan penginapan di Singapura langsung tidur sambil duduk di atas kereta.. hemat banget kan perjalanannya.
Karena ga tau kemana lagi akhirnya kami duduk lesu di tengah keramaian pengunjung di Marina Bay dan aku bahkan sampai tertidur (dasar backpacker), memang ada pertunjukan music sih. Akhirnya kawanku Ihsan mengambil inisiatif untuk mengontak pak Burhan, kenalannya di Singapura melalui Fesbuk. Ngeri juga ni kawan, punya kenalan orang melayu, ga tanggung-tanggung pula tu kenalannya, punya mobil super sport, trus kami di ajak keliling2 dengan tu mobil dan tentunya di ajak berbuka gratis plus makan malam, tak sampai disitu aja, kami dibeliin burger untuk sahur di kereta api… wuiihhh.. ngeri kan..?? sukses jadi backpacker. Sesampainya di tempat kos muksin di Malaysia kami semua tertidur pulas sampai sore, hingga sorenya baru bergerak lagi nyari bukaan gratis di mesjid dekat rumah mukhsin. Tancap man…
Hari berikutnya senin dan selasa aku habiskan untuk jalan-jalan serta belanja sekitaran KL, sempat juga untuk beli souvenir di Pusanika UKM yang di temani kak putri, karena ihsan harus ke kedutaan untuk mengurus paspor. Sempat aku beli oleh-oleh gamis untuk ibuku tercinta, wuiihh.. warna dan bordirannya ok’s banget, cocok lah untuk ibuku walaupun harganya juga ga tanggung-tanggung, tapi untuk ibunda tercinta, hargapun tak terkira.
Malam terakhir aku stay di Malaysia muksin dan kawan-kawannya  ngajak kami untuk nonton bioskop di Putra Jaya, walaupun ga sempat taraweh dengan alasan musafir (hehe), muksin pun memesan tiket yang ga tanggung-tanggung film Harry Potter terbaru yang 3D. Wah..malam penutup yang sempurna.
Alhamdulillah kembali bisa menatap senyum pramugari Airasia yang berarti tandanya pulang ke rumah, dengan membawa paspor yang terstempel 5 negara. Insya Allah akan bertambah stempel nya dengan pengalaman dan cerita yang berbeda, diiringi dengan kaki pegal-pegal, mata ngantuk dan berat badan yang turun sekitar 10 kilo, hehe
Alhamdulillah..

Friday, 11 February 2011

Mencari Semangat yang redup


Desa Burlah, kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, 01 Februari 2011. Sekitar jam 16.15 rombongan Bakti Sosial Gerakan Mahasiswa Peduli Rakyat (Gempur) Aceh Pemerintah Mahasiswa (PEMA) Universitas Syiah Kuala yang berjumlah 45 orang tiba dengan sehat wal afiat. Rombongan kami yang diangkut dengan 5 mobil minibus disambut dengan senyuman dan keramahan warga desa Burlah. Masyarakat menyambut kami seakan-akan seperti menyambut saudara yang sudah lama tak berjumpa, terutama yang ibu-ibu seakan menyatu dan langsung akrab dengan masyarakat.

Aku salah satu relawan Gempur dan juga diamanahkan untuk mengkomandoi kawan-kawan relawan lainnya mencoba untuk menyapa dan membaur dengan masyarakat yang akan menjadi perhatian, sasaran bahkan teman untuk 10 hari kedepan. Walaupun dalam perjalanan keberangkatan dari kampus menuju desa sasaran dilalui dengan banyak rintangan dan permasalahan. Mulai dari pengaturan logistic dan transportasi relawan sebelum keberangkatan sampai dengan ulah sopir yang mengesalkan.

Saat kuinjakkan langkah pertama di desa Burlah, masih kusimpan energy dan semangat untuk mengabdi, setelah menurunkan smua barang dan logistic ke rumah kost kami (sebutan untuk rumah relawan), karena rumah kost laki-laki terpisah dengan perempuan maka aku bersama 4 mobil minibus lainnya ditemani warga beranjak ke atas bukit untuk mengantarkan relawan perempuan ke rumah kostnya di salah satu rumah warga. Setelah smuanya selesai aku pun kembali ke rumah kost yang menjadi istana selama 10 hari kedepan.

Langit mendung yang memberi sinyal akan turunnya hujan lebat menemani sore itu, ku lihat rumah kostku yang gelap tanpa sinaran lampu karena pada saat itu listrik sedang padam, dapur yang luas berlantaikan tanah, 2 kamar tidur dan 1 ruang tamu serta bak mandi besar di samping rumah itulah rumah kost kami yang dihuni oleh 25 orang relawan. Pada saat itulah aku kehilangan ide serta pikiran terasa buntu. Barang logistic yang berserakan ditambah dengan tidak adanya sinyal di handphone ku serta hari yang semakin gelap menambah kebuntuan. Ku dengar desus suara kawanku berbicara tentang banyak pertanyaan yang ditujukan kepadaku, tak satupun dapat ku jawab.

Sambil menarik nafas panjang, aku duduk di dapur sambil merenung untuk mencari semangat yang redup. Memang 3 bulan yang lalu ku lalui hari-hari di zaman serba berteknologi tinggi, di Negara bermata sipit semuanya serba mudah dan lengkap. Sarana transportasi yang cepat, tempat tinggal yang nyaman, teknologi modern serta masyarakat berpendidikan. Tapi hari ini, smuanya terasa berada di alam yang berbeda. Smua keadaan terbalik, seakan-akan aku berada di sisi mata uang yang berbeda. Proses inilah yang sangat mengesankan. Teringat bahwa Allah tidak akan memberi tantangan yang tidak sanggup aku lalui, teringat pula amanah ini diberikan kepadaku karena mereka yakin bahwa aku mampu melewatinya dan kubakar semangat ini dengan kata-kata “kalau pemimpinnya saja sudah lemah, tidak semangat, cengeng apalagi pengikutnya”, ku kumpulkan smua energy yang sudah jauh-jauh hari sebelum baksos sudah kusiapkan, ku ingat kembali smua kata-kata motivasi yang pernah keluar dari bibirku maupun dari bibir teman-teman terbaikku, inilah waktunya mengabdi dan memanfaatkan potensi diri. Langsung kugerakkan langkah memecahkan satu persatu permasalahan serta menuruti saran-saran yang ditawarkan oleh kawan-kawan relawan.

Matahari pun bersembunyi di balik gunung dan gelap malam pun menyapa. Hujan menemani shalat magrib yang dilanjutkan dengan jama’ isya. Setelah itu ku langkahkan kaki menembus gelapnya malam bermodalkan lampu handphone menaiki bukit yang terjalnya hampir 45 derajat plus membawa beberapa barang menuju tempat kost perempuan untuk mendiskusikan beberapa hal menyangkut keadaan serta konsumsi pada malam itu. Kami sepakat untuk makan bersama di mesjid yang berada di bukit pada jam 8 malam. Setelah kembali ke kost aku menaiki bukit untuk kedua kalinya bersama smua relawan laki-laki menuju mesjid untuk makan malam sambil membawa nasi dan air. Karena hujan semakin lebat, akhirnya smua relawan perempuan makan di rumah kost sedangkan kami makan di mesjid. Makan malam pertama kami, ditemani dengan lampu senter, baju yang basah, serta nasi dan ikan seadanya. Setelah smuanya selesai kami pun kembali ke rumah kost yang berada di bawah. Sesampainya di tempat kost, aku harus kembali lagi ke mesjid untuk mengepel lantai mesjid yang kotor dan jorok karena kami masuk dengan keadaan basah kuyup. Langsung kupinjam sepeda motor kepala desa dan membawa kain pel bersama seorang teman. Setelah smuanya selesai langsung kurebahkan badan ini di ruang tamu rumah kost, rumah yang kupikir tidak akan muat untuk menampung 25 badan untuk tidur rupanya pas-pasan dan kawan-kawan tertidur pulas.

Tak terasa smua tantangan kulalui bersama kawan-kawan yang luar biasa, mungkin jika kisah ini diulang kembali tak ada jaminan bahwa diri ini sanggup untuk melewatinya kembali, menaiki dua kali bukit yang terjal bersama barang bawaan serta ditemani hujan. Memang Allah tidak akan memberi tantangan yang tak sanggup kita lewati. Hari pertama penuh kisah di desa Burlah kututup dengan doa syukur dan berharap agar Allah membangunkan jasad ini pada keesokan harinya di waktu subuh.

Friday, 26 November 2010

Internship in Academia Sinica Taiwan, “Engaged with Global Community”


July 25th is my First time to see the sunrise in Formosa (Taiwan) land. I was in Taiwan for internship, starts from July to September 2010 in Research Center for Information Technology Innovation Academia Sinica Taiwan. This program is a part of cooperation between Academia Sinica and Mathematics Department, Syiah Kuala University. Every year start from 2009, 2 students will send to Taiwan to learn open source.

My first in the internship was memorable. In early morning I walked from my apartment to my office. Step foot on that morning much faster and enjoyable. I felt different on that morning, the spirit and my body condition is better than before. I walked like a teenager in Taiwan that runs with an upbeat style while listening to music with headset from my mobile phone. Indeed, the atmosphere that morning was not so oppressive because the streets wet with rain that came down, but the sweat still poured. Walked from my apartment to my office make me become more healthy and fit. I had to hurry, because I should get to the office on time. The day that I arrived in Taipei, Mr. Marr (my advisor in Taiwan) gave map to me, the map that show the direction where is my office.

Apparently here every vehicle running on the right, so I feel a little weird but fun.
After walking for 25 minutes, I arrived at the Information Science Institute building. The map showed the building is the place where I would intern. When the main doors opened automatically I asked the officer at the front desk what floor is for intern students.

That day I met lots of Taiwanese friends, because many researchers at the building said hello and we exchanged business cards. Tim is my mentor. He guided me during the internship. My first task is to learn about Media Wiki. They gave me a week's time to learn about Media Wiki, ranging from installation and modification. But in the afternoon I completed all of my tasks and Tim was very surprised and he confused what should I do next.

Internship in Taiwan is impressive. I had to adapt to new neighborhood. Actually the adaptation process was quite impressive. Tried to get used to with new habit and get used to new neighborhood where not all could run smoothly as I think and unexpected incident sometimes happen. I looked for the answer to make the condition remains stable. It wasn’t easy to get through all this, but I feel the power that was always pushed and watched me one of them is the power of prayer from my parents.

Taiwanese live in modern and advance city. In many cases they are really care about disabled persons, parents, pregnant women and small children. Other rules if you are not in hurry you should walk in right side and if you want to walk quickly you should take left side.

After one month on in Taiwan, experienced many things, there are few complaints and also amazed. I also have a chance to feel Ramadhan in Taiwan. At weekend in the first week of Ramdhan as usual, quite impressive, exhausted and full of challenge, of course accompanied by sore feet, yes .. Although the transportation here is adequate but we still have to walk to find info about transportation or the place we were going to visit. The most experience that really meaningful to me is I have chance to celebrate my Iedul Fitri in Taiwan. That was a first time I celebrated Iedul Fitri not in my home even not in my country. I felt little bit sad, regret and upset but when the day of Iedul Fitri I met lots of Indonesian friends and celebrated it with explore Taipei city.

ICOS 2010

When I was internship I also have a chance to follow International Conference on Open Source (ICOS) 2010, held from September 17-19, in Koahsiung, Taiwan. I was one of the invited speakers. My presentation is about partnership between Aceh and Taiwan Community. On that presentation I explained about Aceh province, Syiah Kuala University, and about Tsunami and earth quake that hit Aceh in December 26, 2004.

I also explain that immediately aids from Taiwanese came just after Tsunami and earth quake hit Aceh. The aids almost 200 tons includes food, clothes and daily needs and Taiwanese also builds many buildings and houses. The aids still continue till now and total of the aids more than 50 million US Dollar. And right now the biggest aids for Syiah kuala University is ICT buildings. The building is use for development ICT in Aceh, also becomes the place to teach computer for teachers. It cost 2 million US Dollars. The aids also come from ADOC, they give 20 computers and 20 laptops.

The partnership between Aceh and Taiwan community also gives chance for young talented Aceh student to internship in Academia Sinica. The program starts from 2009 till now. This program gives chance to Aceh student to learn open source, open their mind about Taiwanese culture and advance technology. They also have chance to communicate with other people and share ideas. Taiwan also sends their student from National Tsing Hua University. From 2008 till now they sent volunteers to teach open source in rural area in Aceh province. The program called E-Mate (E-Learning Medan Aceh Taiwan).

To conclude my presentation, in my opinion the partnership between Aceh and Taiwan community need improvements, because Taiwan and Aceh need each other to develop their country. They need community development to keep this condition such as discussion on mailing list or share with others people to let them now the condition. Taiwan also needs to engage with global community and strengthen the volunteers program. Taiwan needs Aceh because they have to learn about culture and let the Taiwanese communicate with global community with global language, not only mandarin.

Aceh also need help from Taiwan, student from Aceh have to continue their study in Taiwan, and also they need to strengthen the internship program, so Aceh student can learn more not only about open source but also Taiwanese culture.

In ICOS, I also have a chance to engage to global community because in ICOS lots participant from overseas, so we could know each other and had a warm discussions.

July 25th is my First time to see the sunrise in Formosa (Taiwan) land. I was in Taiwan for internship, starts from July to September 2010 in Research Center for Information Technology Innovation Academia Sinica Taiwan. This program is a part of cooperation between Academia Sinica and Mathematics Department, Syiah Kuala University. Every year start from 2009, 2 students will send to Taiwan to learn open source.

My first in the internship was memorable. In early morning I walked from my apartment to my office. Step foot on that morning much faster and enjoyable. I felt different on that morning, the spirit and my body condition is better than before. I walked like a teenager in Taiwan that runs with an upbeat style while listening to music with headset from my mobile phone. Indeed, the atmosphere that morning was not so oppressive because the streets wet with rain that came down, but the sweat still poured. Walked from my apartment to my office make me become more healthy and fit. I had to hurry, because I should get to the office on time. The day that I arrived in Taipei, Mr. Marr (my advisor in Taiwan) gave map to me, the map that show the direction where is my office.

Apparently here every vehicle running on the right, so I feel a little weird but fun.
After walking for 25 minutes, I arrived at the Information Science Institute building. The map showed the building is the place where I would intern. When the main doors opened automatically I asked the officer at the front desk what floor is for intern students.

That day I met lots of Taiwanese friends, because many researchers at the building said hello and we exchanged business cards. Tim is my mentor. He guided me during the internship. My first task is to learn about Media Wiki. They gave me a week's time to learn about Media Wiki, ranging from installation and modification. But in the afternoon I completed all of my tasks and Tim was very surprised and he confused what should I do next.

Internship in Taiwan is impressive. I had to adapt to new neighborhood. Actually the adaptation process was quite impressive. Tried to get used to with new habit and get used to new neighborhood where not all could run smoothly as I think and unexpected incident sometimes happen. I looked for the answer to make the condition remains stable. It wasn’t easy to get through all this, but I feel the power that was always pushed and watched me one of them is the power of prayer from my parents.

Taiwanese live in modern and advance city. In many cases they are really care about disabled persons, parents, pregnant women and small children. Other rules if you are not in hurry you should walk in right side and if you want to walk quickly you should take left side.

After one month on in Taiwan, experienced many things, there are few complaints and also amazed. I also have a chance to feel Ramadhan in Taiwan. At weekend in the first week of Ramdhan as usual, quite impressive, exhausted and full of challenge, of course accompanied by sore feet, yes .. Although the transportation here is adequate but we still have to walk to find info about transportation or the place we were going to visit. The most experience that really meaningful to me is I have chance to celebrate my Iedul Fitri in Taiwan. That was a first time I celebrated Iedul Fitri not in my home even not in my country. I felt little bit sad, regret and upset but when the day of Iedul Fitri I met lots of Indonesian friends and celebrated it with explore Taipei city.


ICOS 2010


When I was internship I also have a chance to follow International Conference on Open Source (ICOS) 2010, held from September 17-19, in Koahsiung, Taiwan. I was one of the invited speakers. My presentation is about partnership between Aceh and Taiwan Community. On that presentation I explained about Aceh province, Syiah Kuala University, and about Tsunami and earth quake that hit Aceh in December 26, 2004.

I also explain that immediately aids from Taiwanese came just after Tsunami and earth quake hit Aceh. The aids almost 200 tons includes food, clothes and daily needs and Taiwanese also builds many buildings and houses. The aids still continue till now and total of the aids more than 50 million US Dollar. And right now the biggest aids for Syiah kuala University is ICT buildings. The building is use for development ICT in Aceh, also becomes the place to teach computer for teachers. It cost 2 million US Dollars. The aids also come from ADOC, they give 20 computers and 20 laptops.

The partnership between Aceh and Taiwan community also gives chance for young talented Aceh student to internship in Academia Sinica. The program starts from 2009 till now. This program gives chance to Aceh student to learn open source, open their mind about Taiwanese culture and advance technology. They also have chance to communicate with other people and share ideas. Taiwan also sends their student from National Tsing Hua University. From 2008 till now they sent volunteers to teach open source in rural area in Aceh province. The program called E-Mate (E-Learning Medan Aceh Taiwan).

To conclude my presentation, in my opinion the partnership between Aceh and Taiwan community need improvements, because Taiwan and Aceh need each other to develop their country. They need community development to keep this condition such as discussion on mailing list or share with others people to let them now the condition. Taiwan also needs to engage with global community and strengthen the volunteers program. Taiwan needs Aceh because they have to learn about culture and let the Taiwanese communicate with global community with global language, not only mandarin.

Aceh also need help from Taiwan, student from Aceh have to continue their study in Taiwan, and also they need to strengthen the internship program, so Aceh student can learn more not only about open source but also Taiwanese culture.

In ICOS, I also have a chance to engage to global community because in ICOS lots participant from overseas, so we could know each other and had a warm discussions.

Sunday, 10 October 2010

Membidik Universitas di Taiwan

Pada sabtu 09 september 2010 kemarin digelar pameran perguruan tinggi di Taiwan. Bertempat di Academic Activity Center Dayan Dawood Universitas Syiah Kuala Aceh, Indonesia. Rombongan yang terdiri dari sekitar 88 orang ini berasal dari 38 universitas top di Taiwan. Mereka datang ke Aceh untuk mempromosikan universitas di Taiwan kepada rakyat Aceh. Tak luput juga ikut dalam rombongan Menteri Pendidikan Taiwan dan juga dari Elite Study In Taiwan (ESIT).

Acara yang dibuka langsung oleh Sekretaris Pemerintah Aceh ini dikunjungi oleh masyarakat Aceh yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, dosen dan masyarakat umum. Pameran yang diadakan hanya satu hari ini dikunjungi oleh ribuan rakyat aceh. Rakyat Aceh sangat antusias mengikuti pameran ini. Pengamatan dari penulis hingga pukul dua siang hampir seluruh brosur yang ada di stan-stan universitas habis diboyong oleh pengunjung. Kebanyakan dari pengunjung menanyakan tentang program yang ditawarkan di setiap universitas serta beasiswa yang disediakan oleh universitas atau pemerintah. Bahkan ada seorang bapak yang datang ke salah satu stan universitas berkata “saya menanyakan informasi ini bukan untuk saya, tapi untuk anak saya yang tidak bisa datang kesini”.

Kebanyakan dari pengunjung yang merupakan akademisi seperti dosen ataupun mahasiswa rata-rata sudah membidik satu universitas di Taiwan sebagai tempat untuk melanjutkan studinya, mereka memilih berdasarkan keunggulan universitas di bidang yang digeluti ataupun berdasarkan beasiswa yang di tawarkan ada juga yang memilih berdasarkan jumlah mahasiswa Indonesia yang ada di universitas tersebut. Namun, ada yang kurang dari kehadiran universitas-universitas dari Taiwan yaitu ketidak hadrian National Taiwan University Science and Technology (NTUST). Memang sebagian dari mahasiswa Aceh sudah membidik universitas ini sebagai tempat melanjutkan S2 atau S3 dan mereka menanyakan ketidak hadiran NTUST dalam pameran kali ini, mungkin di NTUST sudah terlalu banyak mahasiswa Indonesianya bahkan Aceh sehingga rakyat Aceh dapat memilih universitas lainnya yang tak kalah bagusnya.

Pameran ini merupakan pameran yang pertama sekali di gelar di Aceh bahkan Indonesia. Setelah berkunjung ke Aceh selanjutnya rombongan dari Taiwan akan berangkat menuju Jakarta untuk melakukan pameran yang serupa di dua universitas berbeda di pulau jawa. “kami hanya mempunyai kesempatan untuk tinggal selama 8 hari di Indonesia, setelah itu kami langsung kembali ke Taiwan. Tapi kami sangat senang bisa berkunjung dan tinggal selama beberapa hari di Aceh, kami berharap bisa kembali ke Aceh lagi dan dapat mengunjungi tempat-tempat wisata di Aceh” sela Annabel yang berasal dari Kaohsiung Medical University.

kita berharap bahwa kedepan pameran ini terus diadakan setiap tahun dan mengalami peningkatan tiap tahunnya, seperti diadakannya pemeran univeristas-universitas dari Negara lain sehingga rakyat Aceh dapat memilih untuk melanjutkan studinya di universitas manapun, sehingga semakin banyaknya rakyat Aceh yang berpendidikan semakin bagus pula taraf hidup masyarakat, ini merupakan investasi jangka panjang bagi pemerintah Aceh, dan inilah sebenarnya hal yang dilakukan oleh Negara-negara maju untuk menyelamatkan dan menciptakan generasi penerus negara mereka. Semoga kerjasama ini terus berlangsung dan semakin banyak rakyat Aceh yang melanjutkan studinya demi membangun Aceh tercinta.

Mewakili dari pihak panitia penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah Taiwan atas kerjasama yang baik ini dan semoga terus terjalin di masa yang akan datang. Penulis juga mengharapkan kepada rombongan dari Taiwan menikmati kunjungannya ke Aceh dan Indonesia, semoga yang terkenal bukan hanya pulau Bali, tapi Aceh juga menjadi tujuan wisata bagi turis-turis mancanegara di masa yang akan datang. Kunjungan ini juga menunjukkan kepada pihak international bahwa daerah aceh aman dan nyaman untuk di kunjungi oleh siapapun.